 | welcome | Jun 1, 2008 |
Ma kasih sudah mengunjungi blog saya, diharapkan masukannya ya....thank's Yap, thanks to my lovely kifli pendamping sejati, yang senantiasa mengajari segala hal, teman diskusi kapan saja. Juga penghibur hati Divya n Aqil sekaligus menjadi cermin dari tingkah laku. Alhmdulillah, mereka adalah amanah yang sudah menjadi mutiara-mutiara hati ditaman mutiara katangka. ‘Assalamu’alaikum puang Anca’ tegurku sambil ku acungkan tanganku untuk berjabat tangan. Tanpa membuka kacamata hitamnya dan tidak membalas jabat tanganku puang anca menjawab datar ‘wa’alaikum salam, apakbarta’ daeng?’.’ Alhamdulillah baikji puang’ dalam hati coba untuk behusnudzan mungkin puang anca tidak lihat tanganku. ‘Puang, mauka’ minta tolong, istriku sudah melahirkan tapi tidak bisa keluar anaknya dari rumah sakit karena tidak bisaka’ bayar uang operasinya’. Ceritaku. ‘ kenapaq tidak urus jamkesnas daeng?’ katanya. ‘ sudahmi puang tapi tetap saya harus bayar Rp 500.000 untuk administrasi sama obat yang tidak ditanggung jamkesnas’. ‘ oh.. begitu? Nanti saya coba uruskanq’. ‘ terima kasih puang, barakka’ q’. hati ku pulang dengan senang hati Seminggu sudah pertemuanku dengan puang Anca di kantornya yang sengaja saya susul. Sedangkan untuk tinggal di rumah sakit ini uang tabungan sudah habis, saya tidak lagi mencari nafkah karena menemani istri menjaga anaknya di rumah sakit. kami tidur pun di koridor-koridor rumah sakit. rumah kami jauh dari rumah sakit, naik angkot harus ganti 3 kali. Pemilik becak tidak ijinkan saya bawa becaknya ke sini. pernah satu kali saya datang kekantornya lagi tapi kata petugas disana puang Anca tidak ada. Padahal waktu musim kampanye puang Anca sering ke rumah, saya pun membantu untuk mengumpulkan tukang becak-tukang becak dengan pemulung-pemulung yang tinggal dekat rumah.Kalau Puang anca tidak bisa membantu saya terpaksa pulang kerumah dan meminjam uang di puang wawang pemilik becak di tempatku tak apalah harus membayar Rp 5000/harinya selama 2 tahun. Sebagai tukang becak mudah-mudahan bisa melunasinya *** ‘ Ada Pak Andi Syamsuddin?’. ‘belum datang dek’ kata petugas tata usaha. Dalam hati menggerutu. Kemarin kesini lagi rapat disuruhnya datang pagi-pagi. Sekarang belum datang, beberapa hari yang lalu keluar kota hampir satu minggu. Sedangkan acara kita di kampus sudah akan mulai hari minggu ini. ‘bu, biasanya pak Anca datang jam berapa?’ selidikku. ‘ tidak tentu de’ biasanya agak siang kalau tidak ada rapat’. Wah gawat, sedangkan sejam lagi saya ada kuliah. Saya hanya bisa menunggu setengah jam lagi. Di kampus teman-teman sudah bertanya tentang proposal yang kita ajukan ke kanda Anca nama yang sering kita panggilkan untuk Andi Syamsuddin yang sekarang jadi anggota dewan. Dia senior kami dulu dan sangat akrab dengan adek-adek tingkatnya walaupun sudah lulus kuliah dan jarak kita jauh. Tapi sering datang ke basecamp anak-anak, apalagi waktu musim kampanye. Kadang kanda Anca bawa gorengan, martabak bahkan pernah mi kering. Makanan paling mewah yang pernah ada di basecamp. Malam harinya saya coba mendatangi rumahnya, mudah-mudahan sudah benar alamat yang dikasih arman pak ketua panitia. Rumahnya tergolong besar karena diambil dua petak dalam perumahan itu. Didepan rumah ada terpakir mobil honda cRV, berarti kanda ada. Bismillah, tok..tok…’ assalamua’laikum’. Setelah tiga kali mengetuk dan hampir menyerah seorang ibu setengah baya berumur sekitar 40 tahun keluar dari membuka pintu dan menanyakan ‘cari siapa’?. ‘ada bapak?’ jawabku santun. ‘bapak lagi istirahat’. ‘ maaf, bisa katakan dari mahasiswa yang mau ambil proposal?’. ‘ ke kantor saja de’, besok pagi’ suara dari dalam menyeru. Dalam hatiku berkata mungkin istrinya. Tanpa berpamitan saya langsung membalikkan badan dan go to basecamp. Hari-hari selanjutnya pun sama, saya tidak pernah bertemu. Telepon tidak pernah diangkat. *** Capek dari lapangan golf, lumayan untuk refresing setelah rapat di kantor. Dan menghadapi orang-orang yang tahunya hanya minta duit saja. Proposal yang masuk di kantor tiap hari hampir 5 buah. Ada dari mahasiswa untuk kegiatan ini kegiatan itu, mesjid ini,mesjid itu, yayasan-yayasan. Mereka pikir saya mesin uang? Apa tidak ada cara kreatif untuk mencari dana selain meminta-minta?. Rata-rata yang masukkan prorposal-proposal itu sudah pernah saya sumbang. Masa setiap ada kegiatan mintanya ke saya. Pengeluaran saya setiap bulan juga kan besar, untuk memperluas jaringan dengan bermain golf saja sudah harus merogoh paling sedikit 500 ribu setiap minggunya, kalau hanya sekali main golf kalau ada undangan dari teman, sering juga kita gantian mentraktir teman kantor main futsal atau sekedar wisata kuliner.menghilangkan penat sebagai anggota dewan apalagi jika ada undang-undang yang perlu pembahasan berhari-hari. Belum lagi uang kredit mobil lebih dari 4 juta, uang kredit rumah juga hampir 3 juta, uang sekolah anak yang ketiga-tiganya sekolah swasta bergengsi perbulannya juga jutaan, belanja bulanan. Belum lagi memodali dagangan istri yang sepertinya tidak pernah ada untungnya. Keluarga dikampung juga masih sering datang dan minta untuk dibantu. Kata istri, keluarga yang tidak pernah dikenalpun sering datang dan mengaku-ngaku sebagai keluarga. *** Ketika ku Jadi tukang becak kumerasa pantas untuk meminta bantuan, ketika ku Jadi mahasiswa pun seperti itu toh kami lah yang membantunya bisa seperti sekarang. Ketika ku Jadi Anggota Dewan kumerasa sudah cukuplah bantuanku untuk mereka toh suara mereka juga sudah kubayar. Yah seperti itulah kebutuhan manusia tidak ada habisnya, semakin banyak pemasukan semakin banyak pengeluaran. Padahal siapakah yang berhak pada hasil itu? Bukan aku, juga kau hanya Dia penentu hasil segalanya. Untuk Sahabat-sahabtku yang terpilih jangan sampai menjadikan kesenjangan yang besar antara aku dan kau dan yang tidak terpilih atau masih belum berkesempatan, kita doakan mereka yang terpilih untuk selalu amanah, menjaga konstituennya dan tentunya doakan agar tetap istiqamah di jalan Dakwah.
 | KARTINI | May 1, '09 9:27 AM for everyone |
email dari teman From: nany indrayani Subject: Lengkapnya mengenai Kartini To: phpro_indonesia Sent: Mon, April 27, 2009, 10:19 AM
K A R T I N I 1. Mukadimah Bismillahirrahmanir rahiim. Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita- wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.. Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Kartini masih dalam proses. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya. Kartini bukan anak keadaan, terbukti bahwa dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya : "Door Duisternis Tot Licht", yang terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang". Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) - mengartikan kalimat "Door Duisternis Tot Licht" sebagai "Dari Gelap Menuju Cahaya" yang bahasa Arabnya adalah "Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur". Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran). Di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah : 257, ALLah menegaskan: ALLah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan,yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902] Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju benderang. Tapi anehnya tak seorangpun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi,mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan. Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimana pun, beliau telah berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan. Manusia itu berusaha, Allah lah yang menentukan. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900] Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan suatu sikapnya yang tawakkal. Memang, kita manusia sebaiknya berorientasi kepada usaha dan bukan berorientasi pada hasil. Hal ini perlu, agar kita tidak kehilangan cakrawala. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan usia kita yang singkat. Pula agar kita tidak mudah untuk mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil, jika kita dihadapkan dalam kondisi yang sama, kita pun akan berbuat hal yang serupa. Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.[Al- Quran, surat Al-Baqarah : 134] 2. Siapakah Kartini? Kartini lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan : R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda , ia menguasai 26 bahasa: 17 bahasa- bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat. Kartini sendiri secara formal pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Rendah. Tapi beliau dapat memberikan kritik dan saran yang jelas kepada kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: " Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa", Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Salah satu saran yang beliau ajukan kepada Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut: Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya, sebetulnya sangat sederhana : penyakit- penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit disentri atau penyakit lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh, belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan 2 pekan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa, ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dan dapat bicara kembali. Apa obatnya? Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong, sedang obat dokter tidak.Dokter- dokter kita, sebenarnya dapat mengumumkan kasus- kasus seperti itu, tetapi mereka tidak pernah melakukan hal demikian. Mungkin karena khawatir akan ditertawakan oleh para sarjana? Seorang dokter bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya. Dengan membaca petikan nota Kartini yang ditujukan kapada pemerintah Hindia Belanda tersebut, kita dapat memperkirakan daya nalar Kartini untuk ukuran jamannya. 3. Kartini Mendobrak Adat Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899] Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899] Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama.. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan sesorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. Kartini menentang keningratan darah. Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini.[Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899] Keningratan darah sekarang ini hanya tinggal sebagai barang antik di museum. Sebagai gantinya sekarang muncul keningratan- keningratan baru: keningratan pangkat, keningratan jabatan dan semacamnya.Puncak dari segala keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa yang paling banyak menyimpan harta, dialah yang paling ningrat. Semua dapat diatur olehnya. Keputusan dan kebijaksanaan semua orang akan berjalan merunduk-runduk di hadapan keputusan dan kebijaksanaan orang tersebut. Anehnya lagi, mereka yang mengaku sebagai Kartini-Kartini Masa Kini, tidak menentang keningratan- keningratan baru tersebut. Bahkan sebagian besar mereka menjadi korbannya, kalau tidak boleh dikatakan sebagai abdinya yang setia. 4. Kartini Memandang Ke Barat Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik- baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. [Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899] Diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda terhadap bumiputera,telah menjatuhkan moral mereka. Kartini meskipun berasal dari kaum ningrat, tapi pendidikan Barat yang dikenyamnya telah mengajarkan kepadanya bahwa Timur itu rendah dan Barat itu mulia. Kartini bukannya tidak menyadari indoktrinasi ini, tapi kenyataan yang dilihatnya belum lagi dapat dibantah. Dalam dunia pendidikan misalnya, Kartini melihat perbedaan yang menyolok, antara apa yang dimiliki oleh Belanda dengan apa yang baru dapat dicapai oleh Bumiputera. Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga- tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah.[Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902] Dari sini nampak bahwa Kartini menyadari pentingnya peranan buku dalam mencerdaskan kehidupan anak manusia. Kalau masa kini,kebudayaan membaca terkalahkan oleh kebudayaan video, apakah jawabnya adalah Kartini masa kini sudah lebih maju dalam hal mendidik anak-anak mereka? Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland , karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih.[Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900] Agar setaraf dengan Barat, Kartini merasa perlu untuk mengejar ilmu ke Barat. Barat adalah kiblat Kartini setelah melepaskan diri dari kungkungan adat. Pergilah ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir. Surat Kartini kepada Stella [12 Januari 1900] 5. Sahabat-sahabat Dekat Kartini Adat pada dewasa itu tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas;sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa. Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggaplebih ningrat daripada orang Jawa. Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah "musuh-musuh dalam selimut" yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya. Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya : - J.H. Abendanon Abendanon datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900. Ia ditugaskan oleh Nederland untuk melaksanakan Politik Etis. Tugasnya adalah sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena 'orang baru' di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronye, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia- Belanda dalam Perang Aceh. Lebih jauh, Hurgronye mempunyai konsepsi yang disebut sebagai Politik Asosiasi, yaitu suatu usaha agar generasi muda Islam mengidentifikasikan dirinya dengan Barat. Menurut keyakinannya, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam, terutama golongan santrinya. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk membendung dan akhirnya mengatasi pengaruh Islam di Hindia Belanda. Tidak mungkin membaratkan rakyat bumiputera, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan.. Untuk tujuan itu, maka langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini, dan untuk tujuan itulah Abendanon membina hubungan baik dengan Kartini. Kelak, Abendanonlah yang paling gigih berusaha menghalangi Kartini belajar ke Nederland . Ia tidak ingin Kartini lebih maju lagi. - E.E. Abendanon (Ny. Abendanon) Dia adalah pendamping setia suaminya dalam menjalankan tugasnya mendekati Kartini. Sampai menjelang akhir hayatnya, Kartini masih membina hubungan korespondensi dengannya. - Dr. Adriani Keluarga Abendanon pernah mengundang keluarga Kartini ke Batavia . Di Batavia inilah, Ny. Abendanon memperkenalkan Kartini dengan Dr. Adriani. Ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas menyebarkan kristen di Toraja, Sulawesi Selatan. Dr Adriani berada di Batavia dalam rangka perlawatannya keliling Jawa dan Sumatera. Untuk selanjutnya, Dr. Adriani menjadi teman korespondensi Kartini yang intim. - Annie Glasser Ia adalah seorang guru yang memiliki beberapa akta pengajaran bahasa. Ia mengajarkan bahasa Perancis secara privat kepada Kartini tanpa memungut bayaran. Glasser diminta oleh Abendanon ke Kabupaten Jepara untuk mengamati dan mengikuti perkembangan pemikiran Kartini.Tidak mengherankan jika kelak Abendanon dapat mematahkan rencana Kartini untuk berangkat belajar ke Nederland , dengan mempergunakan diplomasi psikologis tingkat tinggi. Semua pihak telah gagal dalam segala upaya untuk menghalangi kepergian Kartini ke Belanda. Kartini telah berbulat tekad untuk ke Belanda. Tapi, tiba-tiba, Abendanon datang langsung dari Batavia ke Jepara untuk menemui Kartini tanpa perantaraan surat . Abendanon hanya berbicara beberapa menit saja dengan Kartini. Hasilnya? Kartini memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya ke Belanda. Hal ini hanya mungkin jika Abandanon mengetahui secara persis kondisi psikologis Kartini; dan hal ini mudah baginya karena ia menempatkan Annie Glasser sebagai "mata- mata"nya. - Stella (Estelle Zeehandelaar) Sewaktu dalam pingitan (lebih kurang 4 tahun), Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Kartini tidak puas hanya mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa melalui buku dan majalah saja.. Beliau ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Untuk itulah, beliau kemudian memasang iklan di sebuah majalah yang terbit di Belanda : "Hollandsche Lelie". Melalui iklan itu, Kartini menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa. Dengan segera iklan Kartini tersebut disambut oleh Stella, seorang wanita Yahudi Belanda. Stella adalah anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu. Ia bersahabat dengan tokoh sosialis; Ir. Van Kol, wakil ketua SDAQ (Partai Sosialis Belanda) di Tweede Kamer(Parlemen) . - Ir. Van Kol Sebelum berkenalan dengan Kartini, Van Kol pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Selain sebagai seorang insinyur, ia juga seorang ahli dalam masalah-masalah kolonial. Stella-lah yang selalu memberi informasi tentang Kartini kepadanya, sampai pada akhirnya ia berkesempatan datang ke Jepara dan berkenalan langsung dengan Kartini. Van Kol mendukung dan memperjuangkan kepergian Kartini ke negeri Belanda atas biaya Pemerintah Belanda. Namun, rupanya ada udang dibalik batu. Van Kol berharap dapat menjadikan Kartini sebagai "saksi hidup" kebobrokan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Semua ini untuk memenuhi ambisinya dalam memenangkan partainya (sosialis) di Parlemen. - Nellie Van Kol (Ny. Van Kol) Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yang paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada walnya, ia bermaksud untuk mengkristenkan Kartini, dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpedulian terhadap agama. Memang,agaknya setelah perkenalannya dengan Ny. Van Kol, Kartini mulai peduli dengan agamanya, Islam. Kepeduliannya ditandai dengan diakhirinya gerakan "mogok shalat" dan "mogok ngaji". Sekarang kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu tampak lain sekarang. Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati sanubari kami; kami belum tahu waktu itu, dan Nyonya Van Kol yang menyibak tabir yang tergantung di hadapan kami. Kami sangat berterima kasih kepadanya. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juni 1902] Setelah Kartini kembali menaruh perhatian pada masalah-masalah agama, mulailah Nellie Van Kol melancarkan missi kristennya. Nyonya Van Kol banyak menceritakan kepada kami tentang Yesus yang tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar semua itu [Surat Kartini kepada Dr. Adriani, 5 Juli 1902] Nyonya van Kol gagal untuk mengkristenkan Kartini secara formal, tapi ia berhasil untuk memasukkan nilai kristen ke dalam keislaman Kartini. Dalam banyak suratnya Kartini menyebut Allah dalam konsep trinitas. Malaikat yang baik beterbangan di sekeliling saya dan Bapak yang ada di langit membantu saya dalam perjuangan saya dengan bapakku yang ada di dunia ini. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juli 1902]. 6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata- kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini. "Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam.. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa- apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?"[Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899] "Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan- perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902] Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat) . Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang , yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat : "Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?" Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya. "Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?" Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. . Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allahlah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata- kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini- menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis. Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah : "Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal- hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"[ Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902] Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda : "Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903] Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan : "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902] 7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan. Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan : "Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902] Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyaksalah dimengerti : "Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902] Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri. 8. Pelajaran Bagi Umat Islam Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi Allah terlebih dahulu memanggilnya) . Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4). Wallahu'alam bissawab.
[ Diteruskan dari Sdri. Nany I. ]
PH PRO Indonesia Mungkin setiap orang tua jg merasakan yang sama terhadap anaknya. Bangga setiap kepintaran-kapintaran baru yang dimilki sang buah hati tercinta. Div dan Aqil tumbuh dengan watak berbeda. Div selalu memberikan kejutan-kejutan setiap kata dan tingkah laku. Mandiri, sangat mandiri menurutku. Ketika umur dua tahun kemudian dia sudah bisa memakai sepatu yang talinya harus dimasukkan kedalam lubang kecil untuk direkatkan. Menurutku hal itu sulit, diumur itu juga dia sudah bisa melipat baju walaupun belum sempurna, caranya menyapupun sudah bersih, memakai baju dan celana sendiri atau tiba-tiba ketika dia dipagi hari bangun dan sinar matahari kemudian menyapu mukanya sambil menyipitkan matanya div mengatakan 'silau'. Kami pada saat itu hanya tersenyum bangga ada kosa kata baru lagi. padahal kami tak pernah mengajarkan langsung, abinya hanya pernah memberi tahu ketika berjalan di sore hari dan matahari menerpa wajah waktu itu div pun masih belum lancar berbicara. Div selalu memperhatikan apa yang orang sekitarnya lakukan kemudian akan dia tiru nantinya, tak tahu apakah itu baik ditiru atau tidak. Sekarang diusianya yang hampir 4 tahun, div pun sudah mulai belajar menulis. beberapa hari yang lalu div sudah bisa menulis huruf F, O, V dll walaupun dia belum tahu huruf apa itu. Tapi sy yakin div tertarik untuk belajar huruf, td di mobil ketika pulang dari pantai div membentuk balon menyerupai huruf O menurutku tapi menurut dia huruf F itupun menurutku juga karena sebenarnya sy tidak jelas dengan huruf yang dia bentuk. Ada lagi Div belajar dari apa yang dia lihat dan dengarkan. diapun sering menceritakan isi buku ke Aqil. Jalan ceritanya sudah benar sesuai dengan gambarnya, padahal kadang cerita tersebut hanya satu kali saya bacakan. Sekarang Div sudah tahu menyebutkan angka, sudah bisa menjalankan komputer. sudah bisa menelpon Abi dari Hp ku yang memeang saya atur letaknya supaya dia bisa tahu tempatnya. Div pun ketika mengutak atik Hp di usianya yg umur 2 th bisa di lakukan ketika melihat saya memencet2 tuts2 nya hingga dia hapal. dimana letak Game, Foto, Video, mengatur wall paper, Tone Hp semua dia pelajari sendiri hanya dengan melihat tangan saya. Saya ingat waktu umur baru bisa 1 th lebih. Sering dia keluar rumah sendiri, bahkan pernah sampai di depan pos satpam rumah kami yg jaraknya kurang lebih 100 m. entah apa yang dia pikirkan saat itu, mungkin dia ingin kerumah neneknya. Berani menurutku. Hampir lupa, Div tidak pernah menangis ketika jatuh, tangannya terkena setrika panas, teriris piasau. Kadang saya merasa bersalah, karena dari kecil sy mengajarkan entahlah jika tepatnya mendoktrin div jika div manjat saya selalu bilang hati-hati yah nak, kalu jatuh sakit dan jangan nangis yah. atau ketika saya sedang menyetrika saya beritahu setrika panas kena tangan bisa sakit, jadi jangan nangis. baegitupun dengan pisau, gunting dan saat dia berlari. Dulunya saya tau kalau div sudah jatuh ketika memandikan dan melihat ada luka di tubuhnya. Tapi sekarang Div sudah mau cerita setiap yang dia alami di luar. Pemalu, Div tidak pernah mau memakai rok jika celananya tidak panjang, katanya malu. mungkin juga meniru umminya yang walaupun pakai baju panjang menutup samapi mata kaki tapi tetap memekai celana panjang. Beberapa hari yang lalu Div memotong rambutnya sendiri, hingga rambut panjangnya yang berombak jadi panjang sebelah kata orang bugis makassar 'tokka', saat itu dia sangat malu dan bercermin memegangi rambutnya, sering sekali merenung. jilbab pun selalu dipakainya, sampai sekarang walau rambutnya sudah dirapikan di Salon. Semoga besarnya nanti jilbabnya karena kesyukurannya pada Allah.
Ada hal yang menarik ketika mengikuti dialog muslimah kemarin. ketika seorang ibu dari sinjai yang menjdi testimoni kehidupannya, ada rasa haru, bangga dan harap bisa mencontoh ibu tersebut. Awalnya saya merasa tidak ada yang istimewa, ketika ibu yang datang dengan dua orang anak perempuannya tersebut menjada tamu di acara dialog tersebut. apalagi ketika salah satu dari mereka diminta untuk melanjutkan hapalan Qur'an surat al mursalat dari pemateri kemudian lama baru terjawab dan mereka saling melempar mic, pematerinyapun ikut membantu. mungkin karena malu, dalam fikirku pada saat itu apa yang istimewa??? Nama ibu itu Ibu Rabiah, ketika di tanya oleh mc " berapa anak ibu dan ceritakan berapa yang hapal Qur'an. " Anak saya 11 orang dan 7 sudah khatam (tentu saja khatam disini bukan khatam dari bacaan Qur'an tp khatam dari hapalan Qur'an), 5 orang lainnya baru sementara menghapal ada yang sudah 15 juz ada yang masih 8 juz, yang bungsu masih tadarruz. Hati saya menjerit, kagum luar biasa masih ada ibu yang bisa mngasuh anaknya seorang diri menjadi hafidz.Saya kemudian tidak ingin beranjak dari tempat duduk dan penasaran ingin mendengar kiat dari ibu Rabiah caranya mengajarkan Alqur'an ke anaknya. Ada satu hal yang dilakukan oleh ibu Rabiah yaitu memberikan motivasi kepada anaknya bahwa kedudukan orang yang masuk syurga tergantung dari seberapa banyak hapalan Qur'annya. Tiba-tiba saya merasa sedih, ya Allah masuk syurga saja belum tentu, apalagi memiliki kedudukan di syurgaMu. sedang hapalan tidak bertambah. Ampuni dosa hamba... Target beliau, minimal anaknya sudah hapal juz 30 hingga tamat SD kemudian anak laki dimasukkan kedalam pesantren di Bone dan anak perempuan dimasukkan kedalam pesantren di sinjai yang mana tempat bapaknya mengajar. saya lupa nama pesantrennya. Dan setiap pulang dari pesantren ada waktu ketika anak-anak muraja'ah hapalan dari ba'da Shalat ashar hingga Isya. Subhanallah... Amazing... saya membayangkan rumah tersebut dikelilingi oleh malaikat-malaikat. " saya tidak pernah dipaksa oleh ummi, ummi orang yang sabar dan tidak pernah marah. saya juga nakal waktu kecil. saya menghapal karena termotivasi oleh kakak yang selalau muraja'ah , saya merasa kakak bisa saya juga bisa". kata anak perempuannya yang ke 7. Banyak hal yang membuat peserta terkagum-kagum, umur ibu Rabiah masih 44 tahun dan dia baru mulai menghapal Al qur'an ketika 2 tahun 8 bulan yang lalu atau umur beliau sekitar 41 th lebih dan sekarang beliau sudah khatam. Jadi tidak ada alasan ketika kita merasa sudah tua dan tidak mampu menghapal Qur'an. Kegiatan ibu rabiah sehari-hari pun diceritakan dalam dialog tersebut. Beliau bangun sebelum subuh untuk Qiyamullail setelah itu menunggu subuh dengan menghapal Al quran, selesai shalat subuh diteruskan hingga pukul 6.30 baru kemudian beliau mengerjakan tugas rumah tangga. sebelum duhur bu Rabiah tidur sekitar setengah jam. nanti setelah ashar baru melanjutkan menghapal Qur'an. dan mengerjakan pekrjaan rumah sendiri tanpa khadimat. Dan tentunya kata beliau sebelumnya ijin dari suami bahkan suaminya sangat senang melihat istrinya bersemangat u menghapal. Jadi semakin cinta ketika istrinya menghapal Qur'an. Membuat peserta yang umumnya ibu-ibu menjadi heboh sehingga ruangan yang kecil menjadi gemuruh. Sebenarnya masih banyak peserta yang ingin bertanya, tapi karena waktu sudah masuk dhuhur sehingga disudahi. saya sendiri ingin bertanya adakah televisi dirumahnya? Tak ada kat terlambat, Jika ada motivasi yang kuat dalam diri tentu kitapun bisa seperti itu. QS: Ar rad : 11, seseungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka merubah diri mereka sendiri. Allahu'alam. semoga bisa menjadi motivasi bagi diri. alm) Ust. Rahmat Abdullah
PK-Sejahtera Online: Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih. Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ? Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan " Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua" Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama? Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana. Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, "toko emas berjalan" dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. "Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku" Pengirim: MHN Update: 20/11/2008 Oleh: MHN
semoga bisa mengingatkan diri Calon Legislatif, menjadi satu-satunya lompatan untuk menjadi anggota legislatif. Profesi yang katanya menjanjikan. Dari beberapa dialog dengan teman seorang aktivis politik perempuan '"kita'(dlm bhs bugis berarti saya) ingin juga punya rumah bagus seperti yang dia punya Aleg A". atau kata ibu yang aktif dalam bidang sosial yang menjadi caleg" sudah lama kami bekerja untuk masyarakat, sudah waktunya kami untuk berbuat lebih. kesempatan ini banyak diinginkan orang". atau seorang akademisi dan pengamat politik ketika menjadi caleg "menjadi pengamat politik tidak cukup untuk sebuah perubahan, jadi perlu menjadi pengambil kebijakan" berbagai macam keinginan orang untuk menjadi Caleg ada juga yang dipanggil sama bapak/keluarga/teman yang aktif dalam sebuah parpol. atau hanya sekedar untuk memenuhi kuota 30 % bagi perempuan. ada juga caleg yang mengatakan " saya sudah mengeluarkan dana paling sedikit 5jt dalam sebulan untuk membiayai tim pemenangan saya, dan nantinya ketika saya terpilih uang dari sebagian gaji saya akan saya berikan kepada konstituen yang memilih sy"
ada juga yang mengatakan ' belum siap menjadi caleg, harus punya konstituen dulu' atau kata salah seorang tokoh masyarakat jg akademisi ' saya tidak ingin melepaskan pekerjaan saya untuk sesuatu yang belum pasti, walaupun banyak yang menginginkan sy menjadi Dewan Persatuan Daerah".
Banyak keinginan ketika menjadi caleg, kadang tak disadari secara spontan mereka juga telah mengeluarkan janji yang nyaris tak bisa ditepati. kasihan....na'udzubillah
ketika saya ditanya, apa jawaban saya? ' sebuah kebetulan, jiwa saya dibesarkan oleh kader PKS dan kebetulan saya bagian dari struktur, kebetulan lagi karena ada anggota eksternal yang mengundurkan diri maka sayalah yang menggantikan' yah, saya masih kurang percaya diri untuk menjadi caleg. apalagi ketika saya ternyata adalah caleg termuda untuk caleg DPR RI. secara umur banyak yang mengatakan saya masih muda kenapa harus DPR RI, kenapa tidak tingkat dua dulu? yah itulah sebuah kebetulan dalam hidup ini tepatnya takdir. akhirnya sy berusaha menjalankan amanah ini semampunya. selain itu saya juga berharap jika akhirnya terpilih jg minimal saya bisa mengurangi orang yang korupsi. simpel saja.
banyak hikmah yang bisa saya dapatkan, antara lain saya kemudian terpacu untuk lebih banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat. menganggap menjadi caleg sebuah pengalaman hidup yang menjadikan diri lebih dewasa. takut niat melenceng hingga tak henti berdoa agar 'dunia hanya ada ditangan dan diberikan akhirat di hati'.
kadang hati ini sedih ketika diri tak mampu menangis. sekeras apakah hati ini... kurang bersyukur kah... meminta agar hati ini tidak menjadi mati berharap agar hati ini diberi ganti dengan yang lebih baik
agar hati ini bisa menangis... agar hati ini bisa bersyukur... agar hati ini tidak pongah..
ketika menangis tak bisa lagi bisa jadi tak ada dosa yang ditangisi atau kita tak merasa peduli lagi dengan sekitar karena tak pernah ada syukur habiskah air mata ini... bosankah Sang Pemilik Waktu mengingatkan kita...
menangislah......... tentang saudara kita di Palestin penyesalan akan dosa menangislah........ ketika hati tak lagi bisa menangis
bersyukurlah karena kita masih bisa menangis pertama kali buat kulit kue sus, ga berbentuk, hangus n kecil banget. tentu sj hasilnya dibuang. setelah dapat resep baru sy coba lg tp hasilnya sama. awalnya ga mau bikin lg, resep yang dikasih sm tantepun sy diamin aja lama. tidak tertarik lg untuk buat kue sus. hingga kemarinpun ketika mau bikin kue donat kentang, sayang kentang kalosi (dr Enrekang) yang bagus karena tidak banyak mengandung air ga dijual di penjual sayur yg lewat. akhirnya sy buat kue sus dg harapan tidak gagal lg krn sudah berapa kali gagal buat kue sus, abi menamakan kue sus yang ketiga sy kue sus katangka, soalnya tidak mengembang, bentuknya lucu ceper. hanya rasanya gak kalah dg kue sus dari toko ina yg lumayan terkenal di Mksr kata Khadimat sy loh.... Penasaran, sy cari lg referensi ttg kue sus, di internet n majalah kue yg sy beli, itupun stlh bertanya sm tante sy yg ngasih resep ternyata tante jg seering gagal tidak mengembang. nah dari hasil baca itu saya coba buat lg yang keempat kalinya. Alhamdulillah, mengembangnya bagus. ternyata rahasianya ada pada saat kulitnya dimasak, yaitu ' oven dg api yang sedang (tidak kecil, jg tdk besar) tidak boleh dibuka selama 15-20 mnt. setelah itu matikan kompornya, dan biarkan kulit sus didalam oven hingga 10 mnt' mungkin pada saat itulah pembentukan dinding2 pada kulit sus itu kokoh. Menurut saya kue sus ini tepatnya dinamakan kue sus 'perjuangan'. .... Puas akhirnya kue yang tadinya sy anggap gampang buatnya ini malah membutuhkan perjuangan n pengorbanan. ada satu hal lg, ternyata buku2 resep yang dijual kadang menipu. kadang diresep tidak ada ukuran mentega ternyata di cara buatnya pake'mentega. so' hati-hati deh beli buku resep. semoga manfaat Perjalanan perjuangan kaum perempuan di indonesia dimulai ketika para pejuang perempuan berkumpul di Yogyakarta pada tanggal 22-25 desember 2008. Pertemuan tersebut kemudian dinamakan Kongres Perempuan Indonesia. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. 80 tahun telah dijalankan namun kondisi bangsa masih belum berubah, kasus yang dihadapi masih tetap sama. tentang kesehatan, perdagangan, kemiskinan dan sebagainya. ada apa dengan perjuangan Perempuan Indonesia? Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak semudah membangun negeri. Dibutuhkan kerjasama setiap manusia, laki-laki dan perempuan (Qs.At taubah:71) untuk bisa tercipta kehidupan yang harmonis dalam setiap bangsa. Karena tanggungjawab kita sebagai manusia adalah sama sebagai Khalifah dimuka bumi ini dan beribadah untuk mendapat derajat Taqwa dari Allah Swt. Ayat 71 dari QS At taubah ini juga diperkuat dengan hadits dari Rasulullah "Barangsiapa tidak memperhatikan urusan kaum muslim maka ia tidak termasuk golongan mereka" Hal ini menandakan bahwa pereempuanpun memiliki kewajiban untuk aktif dalam berbagai bidang, baik ekonomi (Khadijah, contoh dijaman nabi), politik (Asma' yang senantiasa melindungi Rasulullah dengan menghapus jejak), militer (Aisyah memimpin peperangan), Kesehatan (banyaknya sahabiah yang bertugas mengobati para sahabat dimedan perang, disebut perang unta) dan masih banyak lagi contoh yang lain. Hari Ibu luas maknanya tidak semata-mata kita mengucapkan selamat hari ibu, tetapi bagaimana kita sebagai perempuan Indonesia, sebagai Muslimah harus senantiasa memiliki amal yang terbaik untuk ummat. jika kita memiliki potensi yang lebih untuk mensejahterakan masyarakat kenapa harus hanya diam dirumah? Kelebihan seorang ibu dia harus mampu menjaga keseimbangan antara urusan Rumah Tangga dan Masyarakat sosial. Sekarang ini banyak didapati Ibu yang bisa berhasil dikeduanya, seperti ibu Wirianingsih yang saat ini aktif diberbagai kegiatan sosial masyarakat dan juga bisa mendidik anaknya yang jumlahnya 11 orang menjadi hafidz Qur'an. Menurut beliau dalam sebuah majallah hal ini semua tidak terlepas dari bantuan sang suami. jadi betullah dalam Qs. At taubah, yang mengatakan :"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya' bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Kenapa kita tidak terinspirasi dengan hal itu?
| Start: | Jul 19, '08 08:00a |
Acara ini dirangkaikan dengan Bedah Platform PKS | Start: | Jul 21, '08 08:00a |
Pemberian modal kerja untuk ketahanan keluarga BAHAN : 3 bh Telur 1/4 kg Kentang 100 gr Mentega Terigu 1 sdt Fermipan 1 sdt Baker bonus Gula
Cara Membuat Biang Air 1/3 dicampur dengan fermipan dan baker bonus + terigu 1 sdt
Cara buat Adonan Kocok mentega hingga putih, kocok telur dan gula dit4 terpisah,masukkan kentang yang sudah dikukus dan dihancurkan masukkan mentega. masukkan Biang kemudian terigu. aduk hingga tidak lengket ditangan.diamkan sebentar bulat kecil2 kemudian diamkan hingga mengembang setelah mengembang lubangi tengahnya, goreng pada minyak yang panas dan tenggelam. Jadi Panitia MUTUDA lg. dari Wilayah Sulsel sampai Mutuda II makassar jadi panitia. sudah 3 kali jadi panitia mutu kata teman2 nanti jadi mutung deh. he..he... Mutu ato Mukhayyam terpadu untuk akhwat ini salah satu program dari TPPW dan TPPD PKS yang harus dilaksanakan untuk menyambut Pemilu 2009. Diharapkan bisa menghadirkan kader Brigade 09 untuk mengawal pemilu 2009. Yah, dalam setahun ini MUTU wajib diikuti 2 kali oleh setiap kader. Mutuda II untuk akhwat kali ini sebagai sapu bersih yang belum sempat ikut mutu pada MUTUDA I. Katanya sih bulan Oktober nanti akan adalagi mutu untuk Wilayah dan tiap daerah. betul2 harus menjadi kader yang siap siaga ! asal ga jadi kader Mutung aja deh, kalo kader mateng boleh deh. mateng dalam hal fikriyah tentunya......... | Start: | Jul 11, '08 8:00p | | End: | Jul 13, '08 |
3 butir telur ayam 100 g gula pasir 60 g tepung terigu 1 sdm coklat bubuk 1 sdt pasta coklat 1 sdt susu bubuk 2 stngh sdm mentega cair
cara membuat: Kocok telur dan gula hingga lembut, masukkan coklat pasta, masukkan terigu, coklat bubuk dan susu bubuk sedikit demi sedikit aduk rata. masukkan mentega cair aduk dengan spatula hingga rata. tuang kedalam talang untuk kue brownis yang kecil. kukus hingga masak.
 | Akhirnya | Jun 2, '08 12:25 AM for everyone |
Akhirnya bisa juga akses internet di rumah, sudah lama sebenarnya hanya setiap kali saya coba selalu gagal terkoneksi. baru tadi malam suami sempat utak atik komputer dan berhasil. Soalnya sayang banget ada telepon yang dapat subsidi dari kantor suami tapi jarang dipake.
Akhirnya saya juga bisa punya blog sendiri, tadinya cuma blog suami saja yang dibuka. Ada juga sih Blog kita berdua tapi tidak pernah diisi lagi. isinya tentang anak-anak.
Akhirnya saya bisa belajar menulis, semoga belum terlambat,
Akhirnya...........Alhamdulillah
 | Lq | Jun 2, '08 12:17 AM for everyone |
| Start: | Jun 13, '08 12:00a | | End: | Jun 15, '08 |
Kemah PKS untuk kader Pendukung  | Guestbook | |
 |
terima kasih atas kunjungannya :) |
 |
Hi, hon. Just stopping by to say.... I love U. Keep posting yah.... |
| |